Pemerintah Daerah DIY

DINAS KOMINFO DIY

Get Adobe Flash player

Call Center Informasi

Peta Lalulintas

User Rating: / 0
PoorBest 

 

inovasi-kontainer-lipat-dari-its-9RI8oshoTq

JAKARTA - Berbagai pelabuhan di Tanah Air dipenuhi peti kemas (kontainer). Sebagian memuat barang yang siap dikirimkan ke berbagai daerah atau negara. Sebagian lainnya kosong dan ditinggalkan begitu saja.

Fenomena ini mendorong mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat riset khusus tentang transportasi dan peti kemas. Penelitian Latama Rizky Ramadhan berbuah inovasi kontainer lipat.

Awalnya, Tama membuat studi kasus transportasi kontainer pada rute angkut Surabaya-Ambon. Tama mencatat, ada selilih muatan kontainer hingga 29 persen. Artinya, jika ada 100 peti kemas menuju Ambon, yang kembali hanya 70 kontainer.

"Kemungkinannya antara kontainer dibiarkan di Ambon atau dibawa kosongan ke Surabaya. Bisa juga dibuang ke pelabuhan lain," ujar Tama, seperti disitat dari laman ITS, Kamis (10/12/2015).

Akomodasi kontainer kosong sendiri, kata Tama, hampir sama dengan kontainer berisi. Tama pun memiliki ide membuat kontainer lipat. Konsep ini memungkinkan empat unit kontainer dilipat menjadi satu ukuran kontainer. Dengan begitu, ruang penyimpanan di dalam kapal pun bisa dihemat hingga 25 persen.

"Konsep kontainer lipat dapat menekan biaya logistik hingga mencapai Rp1,3 juta per teu (20 foot equivalen unit) atau Rp3 miliar per tahun," imbuh mahasiswa Jurusan Transportasi Laut itu.

Keunggulan lainnya, kata Tama, tingkat keselamatan lebih baik karena titik berat muatan yang lebih rendah. Hal ini terjadi lantaran kontainer kosong harus ditumpuk tinggi. Sedangkan jika dilipat, titik gravitasinya lebih rendah.

"Stabilitasnya pun lebih bagus sehingga cocok untuk mendukung program tol laut," kata Tama.

Konsep kontainer lipat yang diajukan cowok asal Jombang itu sebernarnya sudah mulai diterapkan di Belanda dan Amerika Serikat. Namun, belum ada yang memproduksinya secara massal. Perbedaan yang ditekankan Tama adalah pada teknis pelipatan kontainer. Di Belanda dan Amerika, prosesnya membutuhkan Harbour Mobile Crane (HMG). Sementara di Indonesia, pelipatan kotainer menggunakan forklift karena ketiadaan HMG.

Inovasi tersebut dituangkan mahasiswa angkatan 2010 itu dalam makalah berjudul Optimalisasi Biaya Logistik dalam Imbalance Cargo Market dengan Peti Kemas Lipat. Karya ini sukses mengantarkan Tama menjadi juara satu lomba penelitian transportasi nasional Adi Cipta Wahana Nusantara Award 2015 yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian Perhubungan.

Bahkan, Menteri Perhubungan Indonesia Ignasius Jonan tertarik mematenkan hasil penelitian Tama. Menurut Tama, sang menteri terpikat ide kontainer lipat yang aplikatif serta mudah diterapkan di Indonesia. Terlebih lagi, Tama menyampaikan analisis tidak hanya dari aspek operasional tetapi juga finansial.

"Saya optimistis, hasil riset ini dapat diterapkan di Tanah Air. Kendalanya mungkin dari sumber daya manusia kita sendiri. Siap tidak mengaplikasikan teknologi baru ini?" tukas pehobi biliard itu.

Sumber : www.dishubkominfo.jogjaprov.go.id

e-max.it: your social media marketing partner